Kamis, 06 Juni 2013

MENGUNTUNGKANKAH MENANAM SINGKONG?
Para petani singkong kita rata-rata mengeluarkan modal kerja sekitar Rp 500.000,- per hektar per musim tanam. Setelah 9 bulan sampai 1 tahun, mereka akan panen sekitar 10 ton singkong segar. Kalau di saat panen harga singkong jatuh hingga tinggal Rp 100,- per kg, petani  masih akan memperoleh pemasukan sebesar Rp 1.000.000,- Keuntungan mereka sebesar 100% dari modal kerja dalam kurun waktu 1 tahun. Sebuah prosentase keuntungan yang cukup baik kalau suku bunga pinjaman komersial paling tinggi 20% per tahun. Sentra singkong terbesar di Indonesia ada di provinsi Lampung. Rata-rata kepemilikan petani singkong di Lampung seluas 2 hektar per orang. Berarti pendapatan bersih mereka per tahun dari singkong adalah Rp 1.000.000,- atau per bulan Rp 83,33. Pendapatan mereka dari singkong memang sangat besar prosentasenya, namun secara nominal petani singkong tidak akan dapat hidup dari komoditas tersebut. Itulah sebabnya mereka lebih mengandalkan pendapatan dari pisang, kelapa, melinjo dan lain-lain komoditas tanaman keras di sela-sela areal singkong. Biasanya mereka juga beternak unggas dan ternak ruminansia.
Pada tahun 70an, almarhum Westernberg dari Medan mampu menghasilkan  sampai 80 ton singkong segar dari satu hektar lahannya. Rahasianya, dia memberikan input pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) separo dari hasil singkong segar yang diharapkan. Jadi untuk memperoleh 80 ton singkong segar tersebut, Westernberg memberi lahannya sebanyak 40 ton pupuk kandang. Kalau satu truk besar mampu mengangkut 5 ton pupuk kandang, maka untuk tiap hektar lahannya, Westernberg memasukkan sampai 8 truk pupuk. Kalau nilai pupuk kandang atau kompos buatan sendiri itu Rp 75,- per kg, maka diperlukan modal Rp 3.000.000,- untuk keperluan tersebut. Aplikasi urea, SP dan KCL (atau dengan NPK) sekitar Rp 1.000.000,- Tenaga kerja, bibit dan lain-lain bisa mencapai angka Rp 1.000.000,- Total modal yang dikeluarkan oleh Westernberg Rp 5.000.000,- Dengan hasil panen sebesar 8 ton dan harga tetap Rp 100,- per kg, maka pendapatan kotornya Rp 8.000.000,- Pendapatan bersihnya hanya Rp 3.000.000,- atau sebesar 60% dari modal kerja.
Pendapatan Westenberg secara prosentase jauh lebih kecil dibanding dengan pendapatan para petani tradisional di Lampung. Yakni hanya tigaperlimanya. Tetapi secara nominal, pendapatan dari tiap hektar lahannya menjadi enam kali lipat dari pendapatan para petani tradisional. Angka-angka tersebut sebenarnya menjadi tidak terlalu penting, sebab bagaimana pun menanam singkong tetap menguntungkan secara ekonomis. Lebih-lebih kalau harga singkong segar bisa menjadi Rp 200,- atau Rp 300,- per kg. Yang bisa dicapai oleh Westenberg tersebut sebenarnya termasuk luarbiasa. Sebab standar internasional hasil singkong per hektar per musim tanam hanyalah 50 ton. Tetapi yang bisa dicapai oleh rata-rata petani kita yang hanya 10 ton per hektar per musim tanam juga jauh sekali di bawah standar internasional tersebut. Sebab para petani sama sekali tidak menggunakan aplikasi bahan organik. Padahal singkong adalah jenis tanaman yang terkenal sangat rakus mengambil unsur hara tanah. Karenanya, lahan-lahan yang ditanami singkong secara monokultur secara terus-menerus, hasilnya akan cenderung makin turun. Tanah tersebut juga akan semakin miskin unsur hara.
Para petani tradisional, biasanya juga tahu kalau singkong itu rakus unsur hara. Tetapi mereka hanya memberikan urea yang akan menambah suplai unsur N (Nitrogen). Dosis yang mereka berikan biasanya sekitar 1 sampai 2 kuintal per hektar. Pemberian urea tanpa aplikasi bahan organik ini akan mengubah struktur tanah menjadi semakin liat. Akibatnya, lahan yang secara terus-menerus ditanami singkong bukan hanya akan miskin unsur hara tetapi juga akan mengalami degradasi (kerusakan struktur). Hingga kalau tetap ditanami singkong hasilnya terus menurun, tetapi ditanami komoditas lainnya juga tidak bisa hidup. Karenanya, aplikasi bahan organik menjadi mutlak dalam penanaman singkong. Kalau kita hanya ingin mendapatkan hasil sesuai dengan standar internasional, maka ke dalam tiap hektar lahan cukup dimasukkan 25 ton kompos (lima truk besar). Kalau kompos tersebut dibuat di lahan tersebut, maka akan diperoleh penghematan biaya transpor.
Meskipun sudah diberi aplikasi bahan organik, lahan yang terus-menerus ditanami singkong akan tetap menurun tingkat kesuburannya. Alternatif untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan rotasi. Komoditas yang selama ini paling cocok untuk dirotasi dengan singkong adalah nanas. Lahan bekas singkong yang ditanami nanas, hasilnya akan meningkat dibanding lahan yang terus-menerus ditanami nanas. Sebaliknya, lahan bekas nanas yang dirotasi dengan singkong, hasil singkongnya pun akan naik lagi. Hingga pola yang dilakukan adalah nanas 2 tahun, singkong 2 tahun. Atau nanas 3 tahun, singkong 3 tahun. Kalau satu tahun-satu tahun, nanasnya rugi. Kalau lebih dari tiga tahun, hasil masing-masing akan mulai menurun. Tetapi kemudian timbul masalah. Agribisnis singkong biasanya dilengkapi dengan unit prosesing menjadi tepung tapioka. Agribisnis nanas disertai dengan unit canning atau pembuatan konsentrat. Dua kegiatan ini sama-sama menghasilkan limbah yang kalau dibiarkan akan menjadi gunung yang mencemari lingkungan dengan bau busuknya. Lebih fatal lagi limbah ini akan meracuni tanah maupun sungai.
Limbah singkong maupun nanas sebenarnya masih memiliki nilai ekonomis. Dua komoditas ini masih mengandung nutrisi yang bisa dimanfaatkan oleh ternak. Kulit dan ampas singkong masih mengandung karbohidrat dan selulosa. Sementara tangkai, kulit dan "hati" nanas mengandung gula dan selulosa. Biasanya limbah nanas ini difermentasi menjadi silase sebelum diberikan pada ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba). Sementara limbah singkongnya dapat diberikan langsung. Bisa juga limbah dua komoditas ini dicampur, difermentasi lalu dikeringkan sebelum diberikan kepada sapi. Karenanya di banyak tempat di dunia, lahan singkong selalu menyatu dengan kebun nanas dan peternakan sapi pedaging. Ini pulalah yang kemudian dilakukan oleh Great Giant Peanaple (GGP), sebuah patungan antara Delmonte dengan Gunung Sewu Group di Lampung Tengah sana. Mula-mula Gunung Sewu menanam singkong. Karena lahannya makin kurus dicarilah komoditas yang bisa merotasinya. Ketemu dengan Delmonte yang kebetulan sedang ingin "membuang" nanasnya dari Hawaii. Limbah nanas dan juga singkong ternyata kemudian bermasalah. Masuklah unit peternakan sapi potong.
Di Indonesia, harapan untuk mencapai standar panen singkong 50 ton per hektar masih sangat jauh. Taruhlah kita standarkan 30 ton per hektar. Karena komoditas umbi-umbian berkadar air sekitar 60%, maka bahan padat kering berupa selulosa dan karbohidrat yang dihasilkan masih ada 12 ton. Dengan standar petani tradisional pun, bahan padat kering yang dihasilkan masih ada 4 ton. Ini masih relatif bagus dibanding dengan jagung yang per musim tanamnya 3 bulan dengan hasil sebesar 4 ton pipilan kering (pertanian modern) atau 1,5 ton pada petani tradisional. Artinya dengan asumsi dua kali panen, maka hasil karbohidrat jagung masih lebih rendah dibanding singkong. Pada pertanian modern, singkong menghasilkan 12 ton bahan padat kering, jagungnya 8 ton. Pada pertanian tradisional singkongnya menghasilkan bahan padat kering 4 ton, jagungnya hanya 3 ton. Menghasilkan karbohidrat dari pertanian singkong masih lebih murah dibanding jagung karena biaya produksinya hanya keluar satu kali. Sementara jagung dua kali. Resiko akibat gangguan alam maupun hama/penyakit pun lebih kecil pada tanaman singkong.
Baik singkong maupun jagung sebenarnya merupakan komoditas pendatang. Dua tanaman ini asli dari kawasan tropis benua Amerika. Dibawa ke kepulauan Nusantara sekitar abad XVII oleh bangsa kulit putih. Sebutan bahwa singkong (gaplek) yang dimasak menjadi tiwul adalah makanan pokok (tradisional) orang Gunung Kidul dan Wonogiri, sebenarnya adalah brain washing yang dilakukan oleh kaum penjajah. Makanan pokok orang Jawa adalah padi. Jawa di jaman Hindu dikenal sebagai penghasil beras kualitas baik yang merupakan komoditas ekspor. Ketika Belanda menguasai Jawa, lahan-lahan subur yang semula merupakan areal penanaman padi, dirampas untuk ditanami tebu, tembakau dan rami.  Untuk menghibur inlander yang kekurangan beras, diperkenalkanlah jagung dan singkong yang bisa dibudidayakan di lahan-lahan marjinal. Agar didapat kesan bahwa singkong itu benar-benar makanan pribumi, maka diciptakanlah mitos melalui pelajaran di bangku sekolah bahwa makanan tradisional orang Gunung Kidul dan Wonogiri adalah tiwul yang terbuat dari gaplek singkong.
Masa depan singkong sebenarnya sangat baik. Selama ini singkong yang diolah menjadi tepung gaplek (casava) adalah sumber karbohidrat dalam industri pakan ternak. Sementara pati singkong (tapioca) adalah  bahan baku High Fructose Syrup (HSF) dan Citric Acid. Di tanahair, pati singkong adalah bahan baku kerupuk, bakso dan pempek Palembang yang pangsa pasarnya terus meningkat. Di masa mendatang singkong berpotensi menjadi salah satu pengganti bahan bakar fosil. Setelah diolah menjadi methanol,  singkong adalah bahan bakar sistem cel yang ramah lingkungan. Methanol yang dikonversi menjadi hidrogen, setelah diberi oksigen akan menghasilkan listrik dengan bahan buangan berupa uap air (H2O). Itu semua masih akan sangat panjang. Namun yang jelas singkong bukannya komoditas murahan yang hanya pantas dijadikan makanan pokok kaum inlander.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar